Cerita Bagian Kedua: Kampung Yensei

Tulisan ini merupakan lanjutan dari Cerita Bagian Awal.

Kampung kedua yang kami kunjungi di Distrik Wamesa, Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat adalah Kampung Yensei. Dari Kampung Idoor, perjalanan ke Yensei memakan waktu sekitar lima jam menggunakan long boat melewati daerah aliran sungai, muara dan rawa-rawa. Perjalanan dilakukan pagi-pagi untuk menghindari surutnya air muara, karena satu-satunya akses masuk ke Kampung Yensei adalah melalui aliran sungai yang sempit yang hanya dapat dilewati dari Kampung Idoor dengan cara memutar di daerah muara dan mengambil arah kanan (sepertinya petunjuk ini percuma saja hehe). Dan akhirnya dari kejauhan Jetty (dermaga kecil) Yensei pun terlihat. Kami segera di sambut oleh Bapak Artaban, sekretaris kampung. Orangnya ramah dan mudah senyum. Selama dua hari di Yensei kami menginap di rumah Bapak Artaban yang terletak di daerak ketinggian di dekat kaki bukit.
Yang sangat menarik dari masyarakat di Yensei adalah sikap kegotong royongan yang sangat kuat. Pada saat kami datang, para pria sedang bekerja di hutan untuk mencari sagu dan kayu yang hasilnya digunakan oleh salah satu keluarga untuk biaya sekolah anaknya di luar daerah.

Begitu mendengar kabar ada tamu yang datang, mereka segera bergegas turun ke jetty dan tanpa dikomandoi semua tas-tas, derigen solar, dan kardus-kardus kami langsung di angkat menuju rumah Pak Artaban. Tidak ada wajah sinis yang kami tangkap dari mereka. Mereka memang lebih miskin daripada Kampung lainnya di Distrik Wamesa tapi mereka juga yang paling penolong satu sama lain. Alhasil proses pendataan warga juga berlangsung mudah karena besoknya kami segera turun ke rumah-rumah penduduk ditemani oleh pemuda-pemuda Kampung Yensei.

Sorenya, sebelum mandi di sungai, kami bermain voli dan sepak bola bersama. Tua, muda, lekaki dan perempuan semuanya kompak dan menyenangkan. Saya sempat berujar mungkin inilah persahabatan Papua itu. Walaupun penduduk di Distrik Wamesa seratus persen beragam Kristen Protestan, namun kami sama sekali tidak menemui kendala dalam menjalankan ibadah. Begitu melihat gelagat kami mengambil wudhu maka si Tuan Rumah akan langsung menyediakan tempat salat dan memastikan kami tidak terganggu. Sembari salat, Pak Artaban atau siapapun yang ada di rumah itu akan memastikan anjingnya tidak datang mendekat ke tempat kami salat. Sungguh indah. Bagi saya mungkin sikapnya terlalu berlebihan tapi di satu sisi saya juga memahami betapa sebenarnya kebahagiaan adalah perasaan yang muncul karena sikap saling menghargai antar manusia. Saya Padang, dia Papua, saya Islam, dia Kristen, tapi kami saling menghormati. Maka tak heran dalam waktu sehari saja kami sudah merasa terhubung dengan keluarga Pak Artaban dan warga Kampung Yensei.

Di tangga rumah Pak Artaban

Namun tentu saja kebiasan “aneh” Papua masih terasa di Yensei yang sebenarnya adalah hal yang biasa dan dapat dimaklumi. Kebiasaan yang saya maksud adalah meludah sirih pinang sembarangan. Biasanya, setelah mengunyah-ngunyah sirih hingga bewarna merah, prosesi penting selanjutnya dalam ritual sirih-sirihan ini adalah meludahkan ampas sirihnya ke bawah. Tentu saja konsep bawah ini sangat denotatif. Tergantung si peludah sedang berada di mana, jika berada di rumah, maka bawah berarti lantai rumah, jika berada di jalan maka bawah adalah tanah dan jika berada di sungai bawah adalah sungai. Jangan heran dan terkejut jika pada saat anda sedang mengobrol dengan mereka, kebiasaan ini muncul. Biasanya mereka langsung meludah tepat di depan anda dengan tarikan khas pada mulut 🙂

Berfoto dengan warga Yensei sebelum meninggalkan Yensei menuju Kampung Yakati

Tak jarang pada sebagian rumah, kebiasaan ini disiasati dengan mebuat lantai rumah yang dari bambu yang disusun agak jarang sehingga menyisakan sedikit ruang di sela-sela bambu. Tujuannya agar pada saat kebiasaan itu muncul, mereka tinggal meng-agak-agak arah ludahannya kea rah sela lubang tadi. Hampir di semua bangunan dan jalanan di Teluk Bintuni banyak terdapat noda merah yang tentu diakibatkan oleh sirih pinang tadi.
Lalu. Bagaimana malam dihabiskan di Yensei?

Rumah Pak Artaban satu-satunya rumah yang listriknya menyala (dengan jenset). Maka tiap malam, rumah Pak Artaban bakal meriah oleh suara musik yang menghentak-hentak dari perangkat TV dan VCD bajakan yang biasanya di dapat di ibu kota kabupaten. Dan “pesta” tersebut berlangsung sampai larut malam. Dan malangnya tempat kami tidur adalah tepat di bawah televisi 😦

2 thoughts on “Cerita Bagian Kedua: Kampung Yensei

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s