Menjadi Lipatan

Sudah hampir dua tahun  saya tidak mampir dan beri makan blog ini. Dua tulisan terakhir sudah saya tulis di media lain. Ini salah satunya,  didedikasikan pada setiap detak jantung kebaikan yang percaya bahwa kebaikan menular dan menjejak kuat. 🙂

Menjadi Lipatan

Bagaimana orang-orang baik berkumpul?
Mereka dipertemukan oleh kesempatan kebaikan.

Sedikit saya ingin bercerita ketika Pak Anies Baswedan mewawancarai saya dulu. Dia memberikan saya selembar kertas putih. Kertas biasa yang tak berwarna. Tepat di depan saya, kertas segi empat itu terlentang diam. Apakah saya disuruh menggambar? Atau menulis?

“Lakukan sesuatu pada kertas itu! Do not draw or write anything on it! Dan ceritakan pada saya maksudnya”! Perintah beliau.

Sejenak saya tertegun. Andai saja saya disuruh menggambar tentu jauh akan lebih mudah. Ok, saya bisa buat jadi bentuk lain. Origami? Origami kodok, kapal atau pesawat terbang? Ah saya lupa detail caranya. Tak ada waktu untuk mengingat lagi. Opsi kodok dan kawan-kawan dicoret.

Lalu, baiknya saya apakan selembar kertas putih ini?

Tiba-tiba tangan saya bergerak mengambil kertas. Pokoknya pegang dulu dan pikir belakangan.
Ok baiklah!

Tangan saya (ya, bukan saya tapi tangan saya yang melakukan kontrol 🙂 ) membolak balik kertas dan melipatnya menjadi empat bagian.

Sret…sret…

Di salah satu sudut lipatan, tangan saya menekan kuat-kuat. Dan kemudian kertas itu saya buka lagi dan diletakkan di atas meja.

“Bisa dijelaskan atas apa yang barusan kamu lakukan”?

Yang barusan saya lakukan? Apa yang barusan saya lakukan? Saya benar-benar tak tahu apa yang saya lakukan. Namun ketika saya melihat kertas yang tadi dilipat tiba-tiba saya membaca sesuatu. Melihat polanya dengan sangat jelas. Dan segera saya “menerjemahkan” kertas saya tersebut kepada Pak Anies.

“Tadi kertas ini bersih tak berjejak. Lebar dan utuh. Ada empat sudut yang saling berjauhan, tidak bertemu, tidak bersentuhan “.

Ok, saya pikir saya kerasukan 🙂

“Lalu, saya pertemukan keempat sudut tersebut pada satu titik”, saya ingat ujung lipatan yang saya tekan kuat-kuat. “Pada saat saya lipat, ujung-ujung tiap sudut kertas tersebut bertemu dan bersentuhan”.

“Ketika kertas saya buka, kertas ini telah berubah. Ia mempunyai bekas lipatan yang terlihat jelas yang masing-masing mengarah ke tiap sudut kertas”.

Saya masih kerasukan.

Pak Anies kelihatan bingung.

“Jelaskan maksudnya”!

“Kertas yang dilipat ini ibarat orang-orang baik yang dipertemukan. Anggap ada empat orang baik yang tak pernah saling mengenal sebelumnya, yang tak saling tahu dan “bersentuhan”. Mereka kemudian disatukan ke satu momen, titik atau tempat untuk saling mengenal. Di sini, keempat orang-orang baik itu bertemu “.

Sambil menelan ludah, saya melanjutkan,

“orang-orang baik itu mungkin bertemu sebentar dan kembali ke sudutnya masing-masing, ke asal dan tujuan sebelumnya. Namun lihatlah, ketika mereka telah berpisah, jejak-jejak kebaikan (sambil menunjuk ke arah bekas lipatan) tetap ada dan terlihat jelas. Masih terhubung dan bersambung. Ketika hendak melipat ke bentuk semula akan lebih mudah karena polanya sudah ada. Tidak perlu garis permanen untuk melihatnya, jejak kebaikannya sangat jelas untuk dibaca”.

Selesai.

Saya menunggu komentar beliau.

“Hmmm… Interesting”!

……………………………….

Setelah hampir setahun di IM, saya makin sadar atas “filosofi” kertas tersebut. Di sini, lipatannya bukan hanya empat, tapi banyak sekali. Sebelum jadi Pengajar Muda atau Penyala atau Tim Galuh, kita tak saling mengenal. Kita berada di ujung-ujung yang tak saling melihat. Indonesia Mengajar mempertemukan kita semua, juga dengan yang lainnya. Dengan aktivis pendidikan, dengan masyarakat-masyarakat pendukung gerakan ini, dengan keluarga baru di desa-desa, dengan murid-murid SD. Kita membuat lipatan-lipatan yang makin banyak dan kuat menjejak. Kita dipertemukan oleh kesempatan kebaikan.

6 Desember 2011, 19.34 WIB
Galuh 2, diganggu Pak Hikmat yang nanya “ngapain lo de?”

4 thoughts on “Menjadi Lipatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s