Awak Kapal Indonesia Mengajar

Hidup adalah soal perjalanan mengitari lautan, bukan?

Dan Indonesia Mengajar adalah salah satu kapalnya.

Selepas beberapa bulan lulus kuliah, mencicipi sedikit dunia korporasi, tiba-tiba saya putar haluan menuju satu titik: Indonesia Mengajar. Saya masih ingat di suatu hari di bulan Desember 2010. Saya sedang diwawancara untuk bergabung sebagai awak kapal Indonesia Mengajar. Saya berjudi dengan nasib waktu itu. Tegang bukan main. Dan nasib berpihak.
Januari 2011 saya memulai petualangan saya. Dengan penuh kebanggaan seorang awak kapal bajak laut yang tak kenal takut. Nasib ternyata tidak pernah berpihak. Nasib menuntun. Di 2014, saya turun di dermaga dan melanjutkan perjalanan. Meninggalkan kapal dan tak pernah menoleh lagi.
Lalu, apa yang saya pelajari selama bekerja sebagai awak Indonesia Mengajar?
Bekerja sebagai awak Indonesia Mengajar jelas berbeda dengan menjadi Pengajar Muda. Menjadi awak Indonesia Mengajar berarti menjadi orang yang bekerja di belakang layar, menjadi peniup bara, atau kadang menjadi air untuk memadamkan api yang justru membakar terlalu banyak.
Menjadi awak Indonesia Mengajar berarti menjadi penjamu makan malam di rumah sederhana untuk kemudian mulai makan ketika tamu sudah kenyang dan beranjak pulang. Menjadi awak Indonesia Mengajar juga berarti malam-malam dengan telephone yang tak boleh mati atau kehabisan energi. Menjadi awak Indonesia Mengajar adalah menjadi kapal itu sendiri.
Saya bangga pada rekan-rekan saya yang berjuang di Indonesia Mengajar. Sebuah kalimat yang saya telan karena adalah tabu bagi awak Indonesia Mengajar untuk membanggakan diri sendiri dan berterima kasih. Kita tidak pernah berterima kasih pada diri sendiri atas apa yang memang sudah seharusnya dilakukan, bukan?
Namun sungguh saya bangga pada tiap-tiap orang yang tetap tersenyum dan lapang ketika gelombang datang dan dalam pusaran-pusaran yang kadang membingungkan dan menghempaskan. Dan tersenyum semakin lebar ketika gelombang semalam ternyata menghantarkan banyak ikan di geladak kapal. Bersyukur dan terus bersyukur.
2014-04-28 22.21.10
Terima kasih,

Canberra, 2 Juni 2014

12 thoughts on “Awak Kapal Indonesia Mengajar

  1. Bahkan tanpa terangnya lampu sorot, para awak di belakang tirai pentas tetap bergerak dengan derap tanpa ragu, tanpa lupa berlapang dan tersenyum πŸ™‚ bagaimanapun laut bersikap..
    Saya benar-benar merindukan teman-teman saya… πŸ™‚

  2. Hai Ade.. mas Ade Chandra (mungkin tepatnya hehe). Pertama kenal di SP2MP UGM dan setelahnya, baru tahu kalau kami besar di fakultas yang sama, Fisipol. Sekian tahun menempuh hidup masing-masing, sampai jumpa lagi di sebuah kapal.Indonesia Mengajar, namanya.

    Kapal Indonesia Mengajar memang banyak ceritanya. Mau cerita ala ‘dapur’ tetangga atau dari orang-orangnya langsung seperti Si Awak, Ade Chandra.

    Hihi .. Kini Si Awak ‘mencicipi’ kapal yang lain. Yang di ceritanya tadi, katanya, membuatnya memutuskan untuk tidak menoleh dan terus memandang ke depan, masa depan.

    Hmm, bukannya kehidupan begitu ya? Memangdang ke depan. Lurus dan fokus. Boleh sih kalau ingin sedikit bergeser, ke kiri atau ke kanan mungkin??

    Tetap tebarkan kabarmu dengan tulisan, ya, Si Awak. Dinantikan dari kapal ini.

  3. Sukaaaa banget tulisan ini. Sering-sering menulis lah, Bang. Terimakasih telah bekerja jauh lebih keras dari kami πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s