Berbuat baik saja(lah)!

Usai menyelesaikan semua esai dan ujian di semester pertama, saya dan beberapa sahabat memutuskan untuk berkeliling Australia lewat jalur darat. Australia adalah benua yang membentang ribuan kilometer, too big for a country, too small for a continent. Total perjalanan yang kami tempuh adalah lebih kurang 6100 km pulang pergi; Canberra – Adelaide – Uluru (Alice Springs) – Adelaide – Melbourne – Canberra. 6100 km lebih kurang seperti perjalanan dari Aceh ke Jogja bolak balk, atau dari Jakarta ke Nepal. Semuanya kami tempuh dalam dua minggu.

Kami tidur di jalan, mandi seminggu sekali di toilet umum dan memasak sendiri makanan kami di fasilitas barbecue umum yang biasanya ada di taman-taman kota. Atau jika tidak ada fasilitas tersebut maka kami memasak di rest area yang bisa ditemukan. Tentu saja beberapa kali kami juga makan di restoran dan mampir ke coffee shop. Karena kami kere dan memiliki toleransi yang lumayan tinggi terhadap rasa makanan dan bau badan, semuanya jadi baik-baik saja.

Processed with VSCOcam with a6 preset

Menuju Adelaide dari Canberra. Dari kiri ke kanan: Yogi, Yosa dan Nanto.

Tujuan utama kami adalah Uluru yang berada tepat di jantung benua Australia. Uluru sebenarnya adalah sebuah batu yang amat besar. Bagi orang Aborigin, Uluru adalah situs suci dan hanya boleh didaki oleh orang-orang tertentu di waktu-waktu tertentu (larangan yang tak ampuh bagi turis lokal). Yang menarik dari Uluru bagi saya adalah batu besar ini memiliki warna yang berbeda-beda sesuai dari posisi matahari berada. Pada siang hari di mana matahari tepat di ubun-ubun, Uluru berwarna cokelat tua. Pada saat matahari terbenam, warnanya berubah dari cokelat tua menjadi jingga hingga menjadi merah pekat. Begitupun ketika matahari terbit, Uluru menjadi cokelat muda yang cantik.

Sebelum sampai di Uluru, kami mampir ke berbagai kota kecil sepanjang perjalanan (saking kecilnya, beberapa kota bahkan hanya dihuni oleh sekitar 30 orang penduduk). Dari Canberra kami menuju Adelaide dan menghabiskan dua malam yang digunakan untuk menyewa camper-van yang akan kami gunakan ke Uluru (mobil sedan merah Yosa mogok beberapa kali dalam perjalanan dan kami memutuskan untuk meninggalkannya di Adelaide sembari diperbaiki oleh mekanik setempat), membeli bahan makanan dan sedikit berkeliling ke beberapa tempat menarik di Adelaide. Adelaide menjadi “base camp” atau titik nol sebelum kami melaju ke utara menuju Uluru di Northern Territory.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Uluru

Jalanan di jalur Outback (Stuart Highway) di Australia bagian tengah adalah jalur yang amat sepi. Dalam perjalanan, sangat jarang dijumpai kendaraan lainnya. Berkendara seperti itu membuat kita lebih awas karena bahaya datang dari mengantuk atau kangguru dan sapi yang kadang melintas di jalan raya. Kalau kalian pernah menonton Wolf Creek, kira-kira seperti itulah jalur Outback yang kami lewati. Kosong, sepi dan membosankan. Namun juga (ternyata berbahaya) karena banyak kasus pembunuhan dan orang hilang di sana. Sampai kemudian kami sempat berpikir bahwa bahaya itu benar-benar ada.

Kali ini saya hendak membagi sepenggal pengalaman dari perjalanan tersebut.

Setelah berkeliling beberapa hari di Uluru dan sekitarnya. Kami melanjutkan perjalanan kembali ke Adelaide.

24 Juni 2014. Jam 11.30 malam, 50 km sebelum Coober Pedy, South Australia

Nanto dan Yosa kali ini bergantian memegang kemudi dan penunjuk navigasi. Saya dan Yogi tertidur pulas di bangku tengah. Jam menunjukkan pukul 11.30 malam ketika mobil kami berhenti di pinggir jalan raya. Yosa memutuskan berhenti karena tiba-tiba di jalanan yang kosong melompong di tengah malam tersebut ada sedan yang menyalakan lampu emergency dan melambaikan tangan meminta agar kami berhenti. Setengah sadar saya menyadari situasinya sepertinya agak tidak diduga. Ketika mobil kami berhenti, beberapa orang datang mendekat. Dari jauh figur mereka tidak terlalu jelas. Dari dekat ternyata mereka adalah orang Aborigin (yang banyak kami saksikan di Alice Springs dan Coober Pedy memegang botol minuman alcohol dan menjadi pengemis di jalanan). Saya tidak mau bohong, persepsi saya terhadap mereka agak kurang baik. Mungkin diakibatkan oleh berita-berita dan informasi jaga-jaga dari beberapa orang di jalan.

Namun terlambat untuk tancap gas. Mobil kami sudah berhenti dan perbicaraan sudah dimulai. Seorang lelaki mendekat dan meminta bensin. Kami tidak punya. Ia meminta agar kami mengantarnya ke pom bensin terdekat di Coober Pedy (50 km lagi) dan mengantarnya kembali ke mobilnya. Kami bilang kami tidak punya cukup waktu.

Yosa dan Nanto, dengan ketidakyakinan atas apa yang sebenarnya diinginkan mengatakan kepada mereka bahwa kami bisa mengantar salah satu dari mereka ke kota terdekat (Coober Pedy) dan dari sana kami akan turunkan salah satu dari mereka tersebut ke kantor polisi atau pom bensin dan memersilahkan untuk mencari pertolongan di sana. Tawaran ini tentu saja dengan sedikit harapan agar mereka menolak dan menyilakan kami pergi.

Namun kami salah.

Seseorang dari mereka menerima tawaran kami dan mengatakan bahwa salah satu dari mereka akan ikut dengan mobil kami hingga Coober Pedy. Yogi inisiatif secepat kilat pindah ke bangku depan dan meninggalkan saya di kursi tengah sendirian. Masih agak sedikit mengantuk, masuklah seorang ibu-ibu paruh baya ke mobil dan duduk di samping saya. Untuk pertama kalinya saya mencium bau badan yang membuat leher saya sakit tercekik. Seperti bau belerang. Ibu-ibu itu tanpa sungkan langsung duduk dan membuat dirinya nyaman. Saya tidak.

Ketika pintu telah ditutup, kalimat yang pertama kali ia ucapkan adalah “any cigarette?” dengan gestur menghembuskan rokok di depan muka saya. Saya bilang kita tidak merokok di dalam mobil. Dia mengangguk. Di depan, Yogi, Yosa dan Nanto tampak tegang. Mobil melaju.

Saya ajak ibu tersebut bicara. Apa saja. Sahabat-sahabat saya masih tertawa sampai sekarang jika mengingat apa yang saya bicarakan. Tujuan saya hanya satu, kalau ada niat jahat maka bisa diketahui dari konsistensinya menjawab pertanyaan. Saya tanya anaknya ada berapa, dan apakah mereka sudah besar. Ada tiga jawabnya dan semuanya bersekolah dan obrolan-obrolan lain (sambil menahan napas sebisanya). Dan tiba-tiba mobil kami melaju tidak seperti biasanya. Saya terdiam. Tiga sahabat saya juga terdiam.

Kami curiga ban kami bocor walau masih bisa dikendalikan. Dari bangku depan, Yogi dan Nanto mengatakan kepada Yosa untuk pacu terus mobilnya sejauh mungkin dan jangan sampai berhenti di tengah jalan. Yosa bertanya kepada saya apakah ada mobil yang mengikuti kami dari belakang. Saya segera melihat kebelakang dan hanya menemukan pemandangan gelap karena tak bisa melihat apa-apa. “Kosong, bos!” jawab saya. Ibu tersebut menoleh kepada saya, “What’s up?” Dalam film-film horror biasanya dialog ini diucapkan oleh si penebar terror ketika korbannya mencium gelagat jahatnya. “In ten minutes, we’re going to arrive in Coober Pedy. You’re going to be fine, mam,” jawab saya sekenanya.

Mobil terus melaju kencang bahkan melewati batas 130 km per jam yang ditetapkan polisi. Tujuannya hanya satu sekarang, sampai di kota terdekat dengan selamat. Di depan, sahabat saya berusaha mencari-cari benda apapun yang bisa digunakan jika terjadi sesuatu, namun sayang tak ada apapun. Coober Pedy sudah dekat. Setidaknya, masih ada orang yang terjaga. Kami mencari lokasi pom bensin di GPS.

Ketika telah memasuki kota Coober Pedy, mesin GPS menyarankan agar kami melewati rute ke pom bensin terdekat. Namun di sampingku, ibu tersebut menyuruh kami belok lain. Dia bilang dia sudah kenal tempat ini. Kami semakin takut. Saya bilang kami hanya akan berhenti di pom bensin atau kantor polisi. Si Ibu ngotot agar kami ambil jalur yang sudah dia sarankan. Kami juga ngotot. Hingga GPS reroute sendiri dan turut mengiyakan saran si Ibu. Akhirnya kami melihat cahaya terang. SHELL gas station 24 jam lengkap dengan mini market.

Mobil kami berhenti di pom bensin. Di sana, telah menunggu anak dan saudara-saudara Ibu yang kami tumpangi. Wajah mereka lega melihat Si Ibu keluar dari mobil dengan selamat. Sebelum keluar, sambil berlalu, Ibu tersebut mengucapkan terima kasih. Saya lihat dia agak setengah berlari ke keluarganya yang telah menunggu. Begitu sampai, saya yakin Si Ibu bilang ke saudaranya: “Any cigarette?” dengan gesture yang sama. Hah!!!

Sungguh lima menit yang paling lama yang pernah saya dan sahabat-sahabat saya rasakan (rekor ini kemudian diralat ketika bulan puasa tiba dan menunggu bedug puasa hari pertama di Melbourne).

Mobil kami parkir di halaman pom bensin. Setelah diperiksa, ternyata ada bocor halus di ban kiri belakang. Sepertinya memang sudah waktunya bocor setelah digeber 2000an kilometer. Hanya karena bertepatan dengan kondisi yang penuh dugaan buruk, kami sempat khawatir macam-macam. Kami segera mengganti bannya, menambah angin, mengisi bensin, minum kopi dan melanjutkan perjalanan.

Apakah kami telah berbuat baik? Dengan prasangka yang bertubi-tubi yang kami tujukan pada Si Ibu tadi? Apakah kami sebenarnya tolol mau berhenti di tengah malam buta, di jalur yang konon paling rawan di Australia? Atau kami justru beruntung?

Kami beruntung. Jika saja kami tidak berhenti dan mengacuhkan lambaian tangan di pinggir jalan tersebut, dan kemudian ban kami mendadak bocor halus, yang mungkin baru kami sadari ketika sudah melewati Coober Pedy, maka kami terpaksa harus mengganti ban di jalanan yang gelap tanpa siapa-siapa karena jarak kota terdekat setelah Coober Pedy masih sekitar 200 km lagi. Atau mungkin kami semua tetap tertidur pulas kecuali Yosa si juru mudi yang juga sebenarnya mengantuk dan butuh secangkir kopi, tanpa sadar bocor halus menjadi bocor besar dan mobil menjadi kehilangan kendali sama sekali dan saya tidak bisa menuliskan cerita ini.

Photo 21-06-2014 12 20 20

Canberra, 12 July 2014.

One thought on “Berbuat baik saja(lah)!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s